Social Icons

Pages

Rabu, 17 April 2013

Ana Ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira


Aku dan mas Faris bertemu di Osaka saat kami sama-sama pergi ke akuarium. Saat itu hari sedang hujan, dan kebetulan kami sama-sama tidak membawa payung. Akhirnya kami berkenalan, tapi tidak kusangka pertemuan itu akan berjalan sejauh ini.
Saat kami menikah sebenarnya aku ingin kami memiliki rumah sendiri, tapi ternyata Alloh belum mengizinkan. Ibu mertuaku sangat menyayangi Mas Faris, beliau meminta kami tinggal bersamanya. Setelah beberapa kali mempertimbangkan, kamipun menuruti keinginan ibu. Terbesit sedikit rasa takut, tapi aku berusaha membuat diriku yakin bahwa ibu mertua adalah pembela bagi menantunya. Ingsya Allah.
Mas Faris adalah anak pertama dari dua bersaudara, dia memiliki adik laki-laki yang tidak lain adalah adik iparku sendiri, Farhan yang sekarang menempuh pendidikan di Sebuah Universitas swasta di Jakarta. Mas Faris adalah kebanggaan keluarga, terlebih saat ayahnya meninggal Mas Farislah yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Mas Faris tidak mengizinkan aku bekerja. Aku hanya bertugas mengurus rumah dan menjaga Ibu. Di sela-sela pekerjaannya, Mas Faris selalu meluangkan waktu dhuhur untuk sholat berjamaah denganku dan makan siang di rumah.
Tahun pertama pernikahan kami, semuanya terasa baik. Tapi semenjak hari itu aku menjadi pendiam dan pemurung. Siang itu Mas Faris pulang dari kantor, saat aku membukakan pintu untuknya kudapati dia bersama seorang wanita. Sedikit kaget tapi kufikir itu hanya teman kerjanya
 “Eh..Nak Farida, Ayo silahkan masuk nak”  Kata Ibu dari belakang. Ternyata Ibu sudah mengenal wanita itu. Beliau juga mengenalkan wanita itu padaku, dia adalah anak teman Ibu yang juga bekerja satu kantor dengan Mas Faris. Ibu mengundang Farida makan siang di rumah bersama kami.
Selepas sholat dhuhur, Mas Faris kembali ke kantor bersama Farida. Terbesit sedikit rasa khawatir melihat mereka berada di satu mobil. Aku segera merapikan meja makan agar fikiranku tidak diisi oleh prasangka yang buruk pada mereka.
“Nak Farida tadi cantik ya Ir” Kata Ibu. Beliau menceritakan tentang Farida, semua tentang Farida. Sampai-sampai aku berfikir kalau Ibu bermaksud membandingkanku dengan Farida. Dia bekerja sementara aku tidak, dia cantik dengan make upnya yang sempurna, sementara aku memakai lipstikpun tidak.
“Ir, kata tetangga sebelah setelah pergi ke Mbah Minten, menantunya langsung isi lho” Kata Ibu.
“Astaghfirulloh Ibu, mbah minten itu paranormal. Minta tolong padanya sama dengan syirik buk dan Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik” Jawabku. Aku teringat sebuah ayat yang kubaca kemarin.
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali. (QS. An Nisa’: 116)
“Halah, Sirik apa. Ibu juga sholat dan puasa. Lagipula kamu sudah berkali-kali ke dokter, mana hasilnya” Kalimat ibu membuatku merinding.
Tiga tahun pernikahanku dengan Mas Faris, kami belum dikaruniai anak. Terkadang aku kesepian, meskipun sudah ada Ibu di rumah. Mungkin itulah sebabnya ibu sampai berfikir sejauh ini.
Sudah beberapa kali aku dan Mas Faris pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Aku juga sudah minum beberapa obat hormonal saran dokter, jamu, sampai herbal. Aku juga berusaha menyukai kecambah yang sebenarnya membuatku sangat mual. Kami sudah berikhtiar semampu kami, tapi sampai detik ini kami masih harus bersabar.
“Kami sudah berusaha bu, mungkin Alloh belum mengizinkan” Aku tertunduk.
“Kalau begitu biarkan Faris menikah lagi” Kata-kata ibu membuat hatiku seakan runtuh.
Aku tak kuasa menahan air mataku, aku tidak bisa membayangkan tinggal satu atap dengan istri baru Mas Faris. Betapa tragisnya aku, saat mereka sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Terlebih jika istri Mas Faris nanti lebih dulu memberikan cucu pada Ibu, aku akan menjadi orang asing di keluarga ini.
                                                                        888
Sejak kejadian itu hubunganku dengan ibu makin renggang. Setiap apa yang kulakukan di rumah, selalu dikaitkan dengan anak. Ibu juga semakin sering mengundang Farida makan siang di rumah.  Perasaan senang ketika Mas Faris pulang, kini berganti menjadi perasaan khawatir.
Aku memandangi wajahku di cermin, pucat. Aku mulai memoleskan lipstik, eye shadow, dan blush on di pipiku agar ketika Mas Faris pulang nanti, aku tidak terlihat lesu dan dia akan senang melihatku.  
“Kamu mau kemana?” Tanya Ibu ketika aku keluar kamar.
“Ehm, tidak kemana-mana bu” Jawabku
“Menor sekali, seharusnya kamu bisa seperti Farida” Kata Ibu.
Deg!
Tanpa sadar air mataku menetes, ibu menunjukkan sikap condongnya pada Farida. Mungkin Ibu menginginkan sosok menantu seperti Farida. Fikiranku semakin tidak karuan. Aku selalu mengkhawatirkan Mas Faris yang setiap hari bertemu Farida di kantor. Aku berusaha menyingkirkan perasangka negatif ini, tapi semakin aku berusaha, bayangan Farida semakin jelas di fikiranku.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan membaca buku-buku tafsir, membaca Al-Qur’an, membaca ensiklopedi islam, hingga buku tentang kiat-kiat cepat memiliki anak sambil menunggu suamiku pulang kerja.
“Dek, Kamu pakai make up?” Tanya Mas Faris sambil tertawa kecil saat aku menyodorkan handuk hangat padanya. Aku lupa menghapus make upku tadi siang.
“Ah..iya” Aku segera menghapus make upku dengan lengan  daster yang kupakai.
“Jangan di hapus dulu” Mas Faris memegang tanganku. “Kamu cantik sayang” kalimat Mas Faris membuatku melambung. Mas Faris memegang kepalaku dan  menghadapkannya ke cermin. Dia mencium ubun-ubunku dengan lembut seperti saat malam pertama pernikahan kami. Aku tersipu.
“Tapi aku lebih suka kalau tanpa make up, kamu bilang jerawatan kalau pakai bedak” Mas Faris memegang kedua alisku. Memencet jerawat di dahiku yang entah sejak kapan muncul.
 “Anna ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira. Bukan hanya karena kamu cantik” Kalimat Mas Faris benar-benar ampuh membuat pipiku semerah udang rebus. Istri mana yang tidak senang jika dipanggil dengan panggilan sayang baginda Rosululloh kepada istrinya ‘Aisyah.
Malam itu Mas Faris mengajakku jalan-jalan di sekitar komplek. Kami biasa jalan-jalan malam untuk berbicara dari hati ke hati.
“Mas, Apa Mas bahagia bersama Irma?” Tanyaku.
“Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Apa ada yang mengusikmu” Kata Mas Faris.
Kami duduk di taman. Menikmati indahnya bintang dan lampu taman. Aku bersandar di bahu Mas Faris, tanpa kusadari air mataku menetes di jaket tebalnya.
            “Aku sangat menyayangimu mas, aku ingin menjadi wanita yang sempurna untukmu. Aku takut kehilanganmu mas. Tapi aku juga tidak bisa egois padamu, pada Ibu. Ibu sangat ingin memiliki Faris dan Irma kecil, tapi aku belum bisa memenuhinya. Aku juga ingin dipanggil Umi, dan kamu juga ingin di panggil Abi kan mas? Lagi pula salah satu tujuan pernikahan kan untuk memperbanyak keturunan, memperbanyak muslimin dan muslimah, dan sampai sekarang kita belum mencapai tujuan itu” Kataku sambil menangis. Mas Faris memelukku.
“Dek, badanmu panas sekali” Dia memegang dahiku. Badanku lemas lalu semuanya gelap.
                                                                        888
Saat bangun hari sudah pagi, aku berada di ruangan putih dengan selang infus menancap di tanganku. Kulihat Mas Faris tidur terduduk di kursi. Wajahnya terlihat lelah. Aku beranjak dari tidur, menyelimutinya dengan selimut. Aku duduk disampingnya.
“Dek kamu kok di sini” Dia terbangun, aku hanya tersenyum.
“Aku sakit apa mas?” Tanyaku.
“Nggak sakit apa-apa dek, akulah yang sakit. Kemarin Farhan menyuruhku pergi ke dokter. Kata dokter cairan semenku abnormal. Aku menyesal baru tahu sekarang. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak tahu apa yang kamu rasakan di rumah. Maafkan aku membuatmu tertekan, dan sakit seperti ini dek. Maafkan aku dek” kata Mas Faris. Perasaanku campur aduk, hingga tidak bisa berkata apa-apa. Air mataku lebih bisa mengungkapkan perasaanku.
“Maafin Ibu juga ya Nak” Ibu muncul dari belakangku. Beliau memelukku.
“Ibu terlalu  memaksakan kehendak ibu tanpa memikirkan perasaanmu. Ibu juga minta maaf karena mengajakmu ke Mbah Minten, seharusnya Ibu bersyukur punya menantu yang bisa mengingatkan Ibu. Maafkan perkataan Ibu saat itu nak” Air mataku semakin deras. Aku senang tapi juga marah. Akhirnya kuputuskan untuk memaafkan mereka. Meskipun pasti akan sangat sulit melupakan kekeliruan ini.
Sepulang dari rumah sakit aku meminta Mas Faris mengantarku pulang ke rumah ibuku. Bukan karena masih marah padanya dan Ibu, hanya ingin menenangkan perasaanku. Sementara itu, Mas Faris akan menjalani pengobatan herbal di luar kota. Setiap akhir pekan dia selalu menjengukku dan menginap di rumah.
Sebulan kemudian, Mas Faris menjemputku. Dia juga sudah harus bekerja lagi. Saat akan masuk ke mobil aku pusing dan mual. Mas Faris menyuruhku istirahat di rumah beberapa hari lagi, tapi aku menolak aku sudah merindukan Ibu mertuaku. Di perjalanan Mas Faris mengajakku ke Dokter kandungan. Awalnya aku sempat pesimis, tapi setelah di periksa Dokter ternyata aku hamil. Aku seperti di dalam mimpi, aku tidak sabar memberi tahu ke dua ibuku tentang ini.
Sampai di rumah, aku merasakan kebahagiaan kedua. Ibu sudah menyambutku di depan pintu, beliau sudah memakai gamis merah maroon dengan jilbab lebarnya padahal sebelumnya dia hanya memakai ciput yang lebih mirip topi. Beliau mencium dan memeluku erat. Saat aku memberitahu ibu tentang kehamilanku, beliau menangis haru. Aku juga tak kuasa menahan bendungan air di mataku.
Hari demi hari terajut menjadi minggu, minggu-minggu terangkai menjadi bulan. Bulan demi bulan kulalui dengan penuh syukur dan sabar menanti kelahiran anakku ke dunia ini. Ibu selalu membimbingku. Kalau dulu aku yang menjaga dan merawat Ibu, Sekarang justru ibu yang merawatku. Mas Faris juga lebih banyak libur apalagi saat bulan terakhir kehamilanku. Dia tidak mau melewatkan proses melahirkan anak pertama kami.
Beberapa hari kemudian aku melahirkan putra pertama kami. Dia mewarisi wajah tampan Mas Faris, dan beberapa fenotip yang tampak dari genotipku. Kami berharap dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang Hukma Shabiyya Rabbi Radhiyya (Anak yang meiliki hikmah dan diridhoi Alloh SWT sejak kecil), Amiin Yarobbal Alamin.
                                                      TAMAT

Lita Indri Dian L.
Ayooo kritiknya yaa...

Kamis, 03 Januari 2013

cintai lingkungan ala anak kost-kostan



barusan dapat inspirasi, tentang Sampah,,


kalau berbicara tentang barang yang satu ini memang tidak pernah ada habisnya. barang yang satu ini tidak pernah bisa jauh dari kehidupan manusia setiap harinya. karena manusia sendiri yang memproduksinya. rasanya tidak berlebihan jika manusia dianggap sebagai tukang sampah . seperti kata seorang teman namanya vika maulidiyah  (http://www.facebook.com/vika.maulidiyah?ref=ts&fref=ts) " yang tukang sampah itu bukan bapak berbaju biru (biasanya) yang biasanya dorong sampah dengan gerobak berwarna kuning, tapi manusia yang suka produksi SAMPAH". kadang-kadang tanpa sadar ada yang merasa jaga jarak dengan bapak-bapak ini, karena dia bawa sampah. padahal seharusnya harus berkaca pada diri sendiri. siapa yang tukang sampah mereka atau kita sebenarnya?

nha kalau sudah seperti ini, siapa yang nggak jijik lihatnya ? mengganggu estetika pastinya.
sebentar lagi akan ada lalat ijo (aku biasa menyebutnya abri).
atau ada kucing "mulung" alias ngobrak ngabrik sampah karena ada bau pindang di dalamnya.trus sampahnya tumpah dan baunya kemana-mana.
dan kalau yang punya pembantu biasanya menunggu pembantu buat ngebersihin sampahnya sementara kita cuma bilang "ih jorok banget sih" , padahal kita sendiri yang buang sampah ditu. jijik dong sama diri sendiri.
 
daripada kaya gitu lebih baik dihindari mulai dari cara membuang sampah (kecuali ada yang mau tetap seperti itu, sebaiknya segera berhenti membaca, ini tidak baik untuk kepribadian anda). 
 
 
ini adalah sistem pengelolaan sampah yang diambil dari PPT kuliah pengelolaan sampah departemen biologi Universitas airlangga. karena kebetulan saya manusia kos-kosan jadi posting tentang sampahnya sampai di sekitar situ saja. tips yang bisa saya tulis disini buat teman-teman kos-kosan lain cuma sampai tahap ketiga.

1. Timbulan/ generation. 
dimana proses tukang sampah berlangsung . biasanya habis makan penyetan bareng di depan Tivi trus buang sampah. nha itu dia . kenapa saya sebut penyetan ? karena kebanyakan anak kost2an sering makan penyetan (pengalaman pribadi). kalau yang makannya beli (nggak masak). pasti dalam satu menu (misal penyetan) ada komponen yang nggak disukai, misal : "aku nggak suka terongnya" atau " aku nggak suka kubisnya" (tapi jarang yang bilang " aku nggak suka ayam atau lelenya) yang pada akhirnya terbuang. sampah nggak cuma dari makanan, dari wadah sabun, atau bekas air mineral atau bekas cosmetik. lanjut ketahap selanjutnya Pewadahan
 
2. Pewadahan.
 
pada tahap ini kontribusi untuk menjaga lingkungan dipertanyakan. pada tahap pewadahan yang harus dilakukan adalah pemilahan sampah. mana yang organik, mana yang non organik . mana yang bisa di recycle atau yang tidak. sebaiknya ada sampah khusus botol air mineral, botol kaca, atau barang plastik lainnya. barang-barang semacam ini bisa dijual dan lumayan hasilnya bisa dipakai untuk uang kebersihan, misal : buat beli sapu umum (buat yang gekost). untuk sampah yang non organik bisa langsung di buang di tahap nomor 3. kalau sampah organik seharusnya bisa dibuat kompos. berhunbung di kost nggak ada tanahnya. jadi yang bisa saya lakukan adalah membuang (ke nomor 3)

3. Pengumpulan. 
tahap ini biasanya dikumpulkan di bak sampah yang besar. misal di bak kuning yang biasanya ditarik pak PUPPW. biasanya bak ini ada di pinggir jalan seperti yang ada di dekat kostan saya. untuk pengumpulan sampah. biasanya ada yang jijik pegang sampah. untuk "ngakali" itu sebaiknya di tempat sampah dikasih plastik biar gampang pas mau ngumpulkan ke bak sampahnya. jangan hanya bisa bilang " ihh jijik" tapi usahakan "ihh jijik,tak buang aja deh"

nha...seneng kan kalau lihat kostan bersih.

semoga tidak hanya fatamorgana untuk menjadikan lingkungan kita seperti tang ada DI DALAM bohlam diatas, meskipun sekarang masih banyak yang seperti DI LUAR BOHLAM

semoga bermanfaat, kalau ada kesalahan mohon koreksinya..:)

budidaya rami dan pengambilan serat

Written and Photographed by Judith Sorgen

At a CNCH 2000 workshop, Stephenie Gaustad introduced her earthy, homegrown flax and the long, abusive path the fibers endure to become the luxury fabric we know as linen.  Why would one venture on a journey to cultivate and process such a labor intensive fiber?  Perhaps it is the romantic notion of the CNCH 2009 conference theme “From Hand to Hand, Passing on our Fiber Tradition” or maybe a materialistic opportunity to add more fiber processing tools to our stash.
The journey begins with the seeds both literally and figuratively.  Here, I have annotated the stepwise process with my experience growing and processing flax.

Flax Fiber to Linen Thread
Cultivation – Seeds are planted in spring; blue flowers appear 60 days after germination; flax is harvested 30 days after flowers are at their peak.  My first plot was 4’ x 4’ and thickly sown with seed from the health food store; the plants grew to a height of 28” to 36”. The plants need a level growing area, sun and consistent watering. It is best if the plants are protected from wind or they may fall over The next year I purchased Linum Usitatissimum ‘Cascade’ (textile flax) seeds which grew to a maximum of 54” and had a sturdier stem which I believe will be more easily processed.

Dried Flax sheaves

Flax Plot

Flax sheaves
Harvest – Plants are pulled from the earth to retain their roots.  Flax stalks are aligned and placed in the sun to dry. The bundles were tied in sheaves and arranged to dry in whatever sun might shine in Mill Valley. It is important to maintain the alignment of the stalks throughout the processing steps.


Rippling the Flax

Rippling – Seeds are removed by drawing flax stalks through a hackle, an arrangement of spikes. The dryed stalks were drawn through 2 rakes placed over a tarp to catch the seed pods which could be used for another crop.  The pods were crushed to release the seeds which were passed through a sieve.

Retting – Flax stalks are ‘rotted’ by placing on grass and allowing dew to provide the moisture for fungi and molds  to decompose the cortex and the stem walls or by allowing flax to rest in slow moving water where bacteria and molds are the agents of decomposition. In lieu of a lawn or a stream, my husband dug a pit and lined it with plastic sheeting to create a retting pond.  The flax stalks were arranged in alternating layers; warm water was added; bricks were placed on the flax to keep it submerged;

Flax in retting pond

black plastic was placed on top to absorb any heat that the Mill Valley sun might supply; a screen covered the pond to discourage curious raccoons; some water was siphoned out of the pond daily and refilled with warm water.  After about two weeks, the retting process seemed complete; the test is that the pectin gluing the fibers inside the stem has been dissolved and the 10- 12 flax fibers within the stem separate.  The yield at this point was 23 ounces. Note: The retting process can be obnoxiously smelly so careful consideration of the placement of a retting site is advised.

Breaking - Dried, retted flax is either beaten with a corrugated mallet or placed in a hinged break to shatter the outer stem so that the long flax fibers can be separated from the waste, commonly called boon.  My husband built

Breaking Flax

a break that worked well to crack the outer stem and the inner cortex.  A small bundle of stalks were placed on the break frame starting in the middle; the brake handle is smartly lowered which cracks the stem and cortex; the bundle is then moved along the break to expose a new section of stems and the “breaking” process is repeated.

Scutching – The ‘broken’ boon is next separated from the flax fibers by scraping a wooden scutching knife along the fibers to push away the short pieces of stem.  I used a scutching knife made by Alden Amos and a scutching post made by my husband to scrape away the boon.  A bundle of flax stalks that had been processed by the break was placed in the “V” of the scutching post and the wooden scutching

Scutching Flax
knife was drawn down along the fibers to dislodge and scrape away the unwanted boon.  My boon was very stubborn and not easily removed making this step very difficult, slow and frustrating. My enthusiasm for scutching waned at this point, although I was very pleased and excited to see the “flaxen” fibers for the first time during this long process.  With persistence, I did scutch enough fiber to continue through the remaining steps.

Hackling -Flax fibers are drawn through rows of sharp spikes to separate the short fibers, tow flax, from the longer, more desirable fibers, line flax.  Alden’s hackle is a veritable, medieval torture-chamber implement that effectively separates the flax fibers into long silky strands.  It must be treated with respect and with a nearby supply of Band Aids.   The hackle is clamped to a sturdy table; a small bundle of scutched fiber is flicked onto the hackle beginning with the tip ends; then it is drawn through the hackle; the process is repeated moving up the bundle toward the root end.

Hackling Flax

The bundle can then be reversed to hackle the root end portion.  Tow fibers will collect in the hackle and must occasionally be cautiously removed.  As much as half of the scutched fiber can be lost at this stage; however, the tow flax can be spun into a coarse yarn or simply composted. When several bundles have been hackled they are carefully grouped into a strick making certain that the fibers are properly aligned, that is, all of the root ends are together. This is line flax.

Spinning - Flax is spun ‘wet’ to produce smooth, shiny

Spinning wet line flax
linen.  Flax is generally spun fine. The strick was tied at the one end and the fibers were fanned out. This arrangement was placed on an upright distaff and a bowl of water was hung on the spinning wheel.  As a small group of fibers were drawn from the distaff by the drafting hand, wet fingers of the other hand smoothed the newly formed linen thread.

Finishing – Linen threads are scoured in washing soda and/or detergent to remove excess pectin and lignin. The twist is set by drying as a skein or on a blocking reel. The linen thread was wound on a perforated plastic cone.  The cone was placed in a solution of washing soda and boiled for 2 hours.  The thread was then wound into a skein to dry.

Spun linen thread

I’m now at the end of the “line”, so to speak, having been disheartened by that stubborn boon, but I had fulfilled my goal of growing, processing and spinning an ancient fiber.  Yet, I did plant a second crop which has been retted and rippled, so I am still engaged in the process. Then a fifth grade teacher asked if I could help with the harvest of the class’s flax crop and demonstrate processing the plant into cloth. So I, in a colonial costume, loaded up my flax and processing tools and went to the farm for the harvest.  The teacher wanted the children to know where clothing came from during the colonial period, the amount of labor involved (including that of children) and that textiles were “dear” rather than disposable.  Their “That’s a lot of work”, confirmed that they got his message and flax is just the fiber to tell the story. The next year 3 classrooms of fifth graders used the tools to experience flax processing from rippling to weaving; the big hit was the menacing hackle.


Students with hackle

In preparation for this project, I truly enjoyed researching the history of flax and its contribution to various cultures down through the ages.  And yes, it is possible to take the flax journey vicariously through reading, but it is much more rewarding to engage in the steps yourself.  As my hands transformed the flax from a resistant stalk into a luxury fiber, I reflected upon our forebearers who toiled so hard and I developed an immense appreciation for their persistence.  Demonstrating the flax process was a very rewarding means of sharing a textile tradition with future generations.  To those who endeavor to cultivate and process flax, Alden Amos says, “Flax passes through several stages of abuse before it becomes a useful textile fiber.  Numerous rewards and your personal sense of satisfaction will give a new meaning to smug.”  It has. Oh, did I mention all of the cool tools?

Suggested reading:
Linda Heinrich – The Magic of Linen, Flax Seed to Woven Cloth
Alden Amos -The Alden Amos Big Book of Spinning, illustrated by Stephenie Gaustad
Source for Seeds – Browse the Internet.   Do not use perennial flax.
Source for Equipment
Alden Amos – : http://pweb.jps.net/~gaustad
source : http://www.cnch.org/cnchnet/spring-2011/flax-cultivation-whats-in-it/

Selasa, 01 Januari 2013

remaja salah gaul


















Dua foto ini nampang di jembatan Danau Unair, entah apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. mungkin do'a agar tiba-tiba Kyuhyun dan Siwon muncul di depan mereka dan melihat apa yang mereka lakukan. pertanyaannya kenapa harus mencoret-coret jembatan dengan tipe-ex. ? apa jembatan itu milik kakaknya? kenapa tidak mencorat-coret baju seragamnya sendiri. atau menulis di keningnya biar semua orang tahu. gambar yang kiri lebih tidak masuk akal. kenapa Kyuhyun love fresyah. NNK itu siapa? kenapa tidak ada di search engine manapun? . apa tangan dan mata mereka gatal untuk sekedar melihat lahan bersih tanpa tulisan nyleneh.



Apa orang ini pada akhirnya bisa melihat tulisan di danau unair?
kecuali Kyuhyun punya "koco benggolo" seperti milik mak lampir.
dan apakan dia benar-benar "love" fresyah NNK. kalau ada yang tahu NNK itu girl band atau sejenis gerombolan anak-anak ababil. tolong beri tahu aku?
*pegang kening ..











dan orang ini ( Choi Siwon ) apa dia bisa tahu coretan "tidak bermaksud" di danau !!!
bisa kubayangkan yang nyorat-nyorat ini anaknya pakai celana pensil-pulpen-spidol ketat, dengan T-shirt warna mencolok. rambut re-bounding. dengan polem khasnya.


lebih menyedihkan lagi, jangan-jangan maksud gambar di samping ini adalah tanggal bersejarah  2 insan yang sedang dilanda virus merah jambu. eh,,bukan 1 insan merah jambu, insan yang lainnya abu-abu. kenapa orang ini narsis sekali..
sejak kapan Ryeowook ❤ echa?
*fikiran nggak nyampek...





pertama kali ngliat tulisan di samping. ada rasa aneh.
*mengernyitkan dahi

semoga mereka segera sembuh dari sakit al*ynya.

"sephia clalu cinta ma riko clalu cyank"

semoga beberapa tahun lagi huruf S tetaplah S dan tidak berganti menjadi C.
semoga surabaya tetap surabaya dan tidak berubah menjadi curabaya.


* menebah dada

jangan-jangan dari kebiasaan merubah huruf.. s menjadi c, akan ada tatanan baru :









gara-gara model keyboard seperti ini : 




Astaghfirullohaladzim..