Social Icons

Pages

Jumat, 27 September 2013

Inspirative Housewife Story



Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, that’s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife. Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah daftar mimpi besar saya nomor 1-4. Rasanya terbahas semua sore itu. (No offense nomor 2, gue juga kagak tahu kalau urusan itu :p ) Baiklah, mukadimah ini akan terlalu panjang kalau saya lanjutkan.

image
Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan 
sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya. 

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta :P

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please,  housewife is the most presticious  career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi :) Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran.
Rumah,
31 Juli 2013
00.29
Source : http://azaleav.wordpress.com/2013/08/01/inspirative-housewife-story/

Kamis, 25 April 2013

Not just about Rana sp, but also about life

 "KimDas, KimMat, Biologi sepertinya sudah pintersemua, jadi tidak perlu dibahas.. Ya, kan??"

Pernyataan ini saya dapat ketika saya sedang jalan-jalan di facebook seseorang. Mungkin karena saya dari jurusan biologi makannya jadi sedikit sensitif kalau cabang ilmu yang satu ini disebut. Kalau dilihat kalimatnya ada 2 kemungkinan, yang pertama orang ini sudah faham sekali dengan biologi, atau yang kedua orang ini tidak tahu tentang biologi. Kemungkinan yang pertama ini menimbulkan pertanyaan ke kemungkinan kedua.  biologi seperti apa yang sudah di ketahui?

Dari pernyataan ini fikiran saya kembali ke beberapa minggu lalu, saat itu saya berkumpul dengan beberapa teman dari jurusan yang berbeda. Waktu itu kami bicara tentang apa yang kami pelajari di jurusan masing-masing. Salah seorang teman saya (sebut saja mawar dari jurusan FK*) bertanya "kalau biologi belajar tentang apa?" kemudia teman saya yang lain (sebut saja melati dari jurusan lain) menjawab " Kalau biologi mempelajari kodok". Saya menahan tawa, karena pernyataan itu tidak sepenuhnya salah.

Mungkin praktikum biologi dasar tentang keistimewaan anatomi binatang yang satu ini begitu membekas (red: trauma, meniup paru-paru kodok) hingga ketika ada yang bertanya jurusan biologi, maka yang ada dalam imajinasinya saat itu adalah kodok. Ya memang, di semester 1 dari jurusan matematika, kimia, dan Fisika mendapatkan mata kuliah praktikum yang diberi nama biologi dasar (Anak biologi mendapat nama yang berbeda dengan materi yang sama, red : Biologi Umum. kenapa?). bahkan ada diantara jurusan-jurusan tadi yang mendapatkan biologi dasar I dan II. 

kemudian fikiran saya jalan-jalan lagi ke vidio Isolasi DNA strawberry yang saya dapatkan di Youtube. kalau tidak salah dengar sang guru menyebut "You, ...(nama sekolah) High school student". Nah, di Luar negeri praktikum isolasi DNA sudah diberikan kepada anak SMA. Kalau seandainya di Indonesia materi isolasi DNA sudah di berikan sejak SMA, mungkin percakapan dan pernyataan yang dilontarkan teman saya ketika ada yang bertanya tentang biologi tidak akan hanya menjawab "mempelajari kodok" tapi juga tentang isolasi DNA.

Kebanyakan orang dari jurusan lain menganggap biologi hafalan, ini juga tidak sepenuhnya salah. Tapi kalau ingat soal Endokrinologi kemarin(dan contoh lain yang tidak saya sebutkan satu/satu), mungkin anggapan itu akan sedikit pudar, bukan hafalan yang berlaku disini tapi pemahaman, pemahaman tentang mekanisme keteraturan yang tentu saja bukan hasil pemikiran manusia tapi aturan dari Sang Maha Pengatur.

So guys, Biologi bukan hanya ilmu tentang Rana sp, tapi ilmu yang mempelajari kehidupan.

Rabu, 17 April 2013

Ana Ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira


Aku dan mas Faris bertemu di Osaka saat kami sama-sama pergi ke akuarium. Saat itu hari sedang hujan, dan kebetulan kami sama-sama tidak membawa payung. Akhirnya kami berkenalan, tapi tidak kusangka pertemuan itu akan berjalan sejauh ini.
Saat kami menikah sebenarnya aku ingin kami memiliki rumah sendiri, tapi ternyata Alloh belum mengizinkan. Ibu mertuaku sangat menyayangi Mas Faris, beliau meminta kami tinggal bersamanya. Setelah beberapa kali mempertimbangkan, kamipun menuruti keinginan ibu. Terbesit sedikit rasa takut, tapi aku berusaha membuat diriku yakin bahwa ibu mertua adalah pembela bagi menantunya. Ingsya Allah.
Mas Faris adalah anak pertama dari dua bersaudara, dia memiliki adik laki-laki yang tidak lain adalah adik iparku sendiri, Farhan yang sekarang menempuh pendidikan di Sebuah Universitas swasta di Jakarta. Mas Faris adalah kebanggaan keluarga, terlebih saat ayahnya meninggal Mas Farislah yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Mas Faris tidak mengizinkan aku bekerja. Aku hanya bertugas mengurus rumah dan menjaga Ibu. Di sela-sela pekerjaannya, Mas Faris selalu meluangkan waktu dhuhur untuk sholat berjamaah denganku dan makan siang di rumah.
Tahun pertama pernikahan kami, semuanya terasa baik. Tapi semenjak hari itu aku menjadi pendiam dan pemurung. Siang itu Mas Faris pulang dari kantor, saat aku membukakan pintu untuknya kudapati dia bersama seorang wanita. Sedikit kaget tapi kufikir itu hanya teman kerjanya
 “Eh..Nak Farida, Ayo silahkan masuk nak”  Kata Ibu dari belakang. Ternyata Ibu sudah mengenal wanita itu. Beliau juga mengenalkan wanita itu padaku, dia adalah anak teman Ibu yang juga bekerja satu kantor dengan Mas Faris. Ibu mengundang Farida makan siang di rumah bersama kami.
Selepas sholat dhuhur, Mas Faris kembali ke kantor bersama Farida. Terbesit sedikit rasa khawatir melihat mereka berada di satu mobil. Aku segera merapikan meja makan agar fikiranku tidak diisi oleh prasangka yang buruk pada mereka.
“Nak Farida tadi cantik ya Ir” Kata Ibu. Beliau menceritakan tentang Farida, semua tentang Farida. Sampai-sampai aku berfikir kalau Ibu bermaksud membandingkanku dengan Farida. Dia bekerja sementara aku tidak, dia cantik dengan make upnya yang sempurna, sementara aku memakai lipstikpun tidak.
“Ir, kata tetangga sebelah setelah pergi ke Mbah Minten, menantunya langsung isi lho” Kata Ibu.
“Astaghfirulloh Ibu, mbah minten itu paranormal. Minta tolong padanya sama dengan syirik buk dan Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik” Jawabku. Aku teringat sebuah ayat yang kubaca kemarin.
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali. (QS. An Nisa’: 116)
“Halah, Sirik apa. Ibu juga sholat dan puasa. Lagipula kamu sudah berkali-kali ke dokter, mana hasilnya” Kalimat ibu membuatku merinding.
Tiga tahun pernikahanku dengan Mas Faris, kami belum dikaruniai anak. Terkadang aku kesepian, meskipun sudah ada Ibu di rumah. Mungkin itulah sebabnya ibu sampai berfikir sejauh ini.
Sudah beberapa kali aku dan Mas Faris pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Aku juga sudah minum beberapa obat hormonal saran dokter, jamu, sampai herbal. Aku juga berusaha menyukai kecambah yang sebenarnya membuatku sangat mual. Kami sudah berikhtiar semampu kami, tapi sampai detik ini kami masih harus bersabar.
“Kami sudah berusaha bu, mungkin Alloh belum mengizinkan” Aku tertunduk.
“Kalau begitu biarkan Faris menikah lagi” Kata-kata ibu membuat hatiku seakan runtuh.
Aku tak kuasa menahan air mataku, aku tidak bisa membayangkan tinggal satu atap dengan istri baru Mas Faris. Betapa tragisnya aku, saat mereka sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Terlebih jika istri Mas Faris nanti lebih dulu memberikan cucu pada Ibu, aku akan menjadi orang asing di keluarga ini.
                                                                        888
Sejak kejadian itu hubunganku dengan ibu makin renggang. Setiap apa yang kulakukan di rumah, selalu dikaitkan dengan anak. Ibu juga semakin sering mengundang Farida makan siang di rumah.  Perasaan senang ketika Mas Faris pulang, kini berganti menjadi perasaan khawatir.
Aku memandangi wajahku di cermin, pucat. Aku mulai memoleskan lipstik, eye shadow, dan blush on di pipiku agar ketika Mas Faris pulang nanti, aku tidak terlihat lesu dan dia akan senang melihatku.  
“Kamu mau kemana?” Tanya Ibu ketika aku keluar kamar.
“Ehm, tidak kemana-mana bu” Jawabku
“Menor sekali, seharusnya kamu bisa seperti Farida” Kata Ibu.
Deg!
Tanpa sadar air mataku menetes, ibu menunjukkan sikap condongnya pada Farida. Mungkin Ibu menginginkan sosok menantu seperti Farida. Fikiranku semakin tidak karuan. Aku selalu mengkhawatirkan Mas Faris yang setiap hari bertemu Farida di kantor. Aku berusaha menyingkirkan perasangka negatif ini, tapi semakin aku berusaha, bayangan Farida semakin jelas di fikiranku.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan membaca buku-buku tafsir, membaca Al-Qur’an, membaca ensiklopedi islam, hingga buku tentang kiat-kiat cepat memiliki anak sambil menunggu suamiku pulang kerja.
“Dek, Kamu pakai make up?” Tanya Mas Faris sambil tertawa kecil saat aku menyodorkan handuk hangat padanya. Aku lupa menghapus make upku tadi siang.
“Ah..iya” Aku segera menghapus make upku dengan lengan  daster yang kupakai.
“Jangan di hapus dulu” Mas Faris memegang tanganku. “Kamu cantik sayang” kalimat Mas Faris membuatku melambung. Mas Faris memegang kepalaku dan  menghadapkannya ke cermin. Dia mencium ubun-ubunku dengan lembut seperti saat malam pertama pernikahan kami. Aku tersipu.
“Tapi aku lebih suka kalau tanpa make up, kamu bilang jerawatan kalau pakai bedak” Mas Faris memegang kedua alisku. Memencet jerawat di dahiku yang entah sejak kapan muncul.
 “Anna ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira. Bukan hanya karena kamu cantik” Kalimat Mas Faris benar-benar ampuh membuat pipiku semerah udang rebus. Istri mana yang tidak senang jika dipanggil dengan panggilan sayang baginda Rosululloh kepada istrinya ‘Aisyah.
Malam itu Mas Faris mengajakku jalan-jalan di sekitar komplek. Kami biasa jalan-jalan malam untuk berbicara dari hati ke hati.
“Mas, Apa Mas bahagia bersama Irma?” Tanyaku.
“Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Apa ada yang mengusikmu” Kata Mas Faris.
Kami duduk di taman. Menikmati indahnya bintang dan lampu taman. Aku bersandar di bahu Mas Faris, tanpa kusadari air mataku menetes di jaket tebalnya.
            “Aku sangat menyayangimu mas, aku ingin menjadi wanita yang sempurna untukmu. Aku takut kehilanganmu mas. Tapi aku juga tidak bisa egois padamu, pada Ibu. Ibu sangat ingin memiliki Faris dan Irma kecil, tapi aku belum bisa memenuhinya. Aku juga ingin dipanggil Umi, dan kamu juga ingin di panggil Abi kan mas? Lagi pula salah satu tujuan pernikahan kan untuk memperbanyak keturunan, memperbanyak muslimin dan muslimah, dan sampai sekarang kita belum mencapai tujuan itu” Kataku sambil menangis. Mas Faris memelukku.
“Dek, badanmu panas sekali” Dia memegang dahiku. Badanku lemas lalu semuanya gelap.
                                                                        888
Saat bangun hari sudah pagi, aku berada di ruangan putih dengan selang infus menancap di tanganku. Kulihat Mas Faris tidur terduduk di kursi. Wajahnya terlihat lelah. Aku beranjak dari tidur, menyelimutinya dengan selimut. Aku duduk disampingnya.
“Dek kamu kok di sini” Dia terbangun, aku hanya tersenyum.
“Aku sakit apa mas?” Tanyaku.
“Nggak sakit apa-apa dek, akulah yang sakit. Kemarin Farhan menyuruhku pergi ke dokter. Kata dokter cairan semenku abnormal. Aku menyesal baru tahu sekarang. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak tahu apa yang kamu rasakan di rumah. Maafkan aku membuatmu tertekan, dan sakit seperti ini dek. Maafkan aku dek” kata Mas Faris. Perasaanku campur aduk, hingga tidak bisa berkata apa-apa. Air mataku lebih bisa mengungkapkan perasaanku.
“Maafin Ibu juga ya Nak” Ibu muncul dari belakangku. Beliau memelukku.
“Ibu terlalu  memaksakan kehendak ibu tanpa memikirkan perasaanmu. Ibu juga minta maaf karena mengajakmu ke Mbah Minten, seharusnya Ibu bersyukur punya menantu yang bisa mengingatkan Ibu. Maafkan perkataan Ibu saat itu nak” Air mataku semakin deras. Aku senang tapi juga marah. Akhirnya kuputuskan untuk memaafkan mereka. Meskipun pasti akan sangat sulit melupakan kekeliruan ini.
Sepulang dari rumah sakit aku meminta Mas Faris mengantarku pulang ke rumah ibuku. Bukan karena masih marah padanya dan Ibu, hanya ingin menenangkan perasaanku. Sementara itu, Mas Faris akan menjalani pengobatan herbal di luar kota. Setiap akhir pekan dia selalu menjengukku dan menginap di rumah.
Sebulan kemudian, Mas Faris menjemputku. Dia juga sudah harus bekerja lagi. Saat akan masuk ke mobil aku pusing dan mual. Mas Faris menyuruhku istirahat di rumah beberapa hari lagi, tapi aku menolak aku sudah merindukan Ibu mertuaku. Di perjalanan Mas Faris mengajakku ke Dokter kandungan. Awalnya aku sempat pesimis, tapi setelah di periksa Dokter ternyata aku hamil. Aku seperti di dalam mimpi, aku tidak sabar memberi tahu ke dua ibuku tentang ini.
Sampai di rumah, aku merasakan kebahagiaan kedua. Ibu sudah menyambutku di depan pintu, beliau sudah memakai gamis merah maroon dengan jilbab lebarnya padahal sebelumnya dia hanya memakai ciput yang lebih mirip topi. Beliau mencium dan memeluku erat. Saat aku memberitahu ibu tentang kehamilanku, beliau menangis haru. Aku juga tak kuasa menahan bendungan air di mataku.
Hari demi hari terajut menjadi minggu, minggu-minggu terangkai menjadi bulan. Bulan demi bulan kulalui dengan penuh syukur dan sabar menanti kelahiran anakku ke dunia ini. Ibu selalu membimbingku. Kalau dulu aku yang menjaga dan merawat Ibu, Sekarang justru ibu yang merawatku. Mas Faris juga lebih banyak libur apalagi saat bulan terakhir kehamilanku. Dia tidak mau melewatkan proses melahirkan anak pertama kami.
Beberapa hari kemudian aku melahirkan putra pertama kami. Dia mewarisi wajah tampan Mas Faris, dan beberapa fenotip yang tampak dari genotipku. Kami berharap dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang Hukma Shabiyya Rabbi Radhiyya (Anak yang meiliki hikmah dan diridhoi Alloh SWT sejak kecil), Amiin Yarobbal Alamin.
                                                      TAMAT

Lita Indri Dian L.
Ayooo kritiknya yaa...

Kamis, 03 Januari 2013

cintai lingkungan ala anak kost-kostan



barusan dapat inspirasi, tentang Sampah,,


kalau berbicara tentang barang yang satu ini memang tidak pernah ada habisnya. barang yang satu ini tidak pernah bisa jauh dari kehidupan manusia setiap harinya. karena manusia sendiri yang memproduksinya. rasanya tidak berlebihan jika manusia dianggap sebagai tukang sampah . seperti kata seorang teman namanya vika maulidiyah  (http://www.facebook.com/vika.maulidiyah?ref=ts&fref=ts) " yang tukang sampah itu bukan bapak berbaju biru (biasanya) yang biasanya dorong sampah dengan gerobak berwarna kuning, tapi manusia yang suka produksi SAMPAH". kadang-kadang tanpa sadar ada yang merasa jaga jarak dengan bapak-bapak ini, karena dia bawa sampah. padahal seharusnya harus berkaca pada diri sendiri. siapa yang tukang sampah mereka atau kita sebenarnya?

nha kalau sudah seperti ini, siapa yang nggak jijik lihatnya ? mengganggu estetika pastinya.
sebentar lagi akan ada lalat ijo (aku biasa menyebutnya abri).
atau ada kucing "mulung" alias ngobrak ngabrik sampah karena ada bau pindang di dalamnya.trus sampahnya tumpah dan baunya kemana-mana.
dan kalau yang punya pembantu biasanya menunggu pembantu buat ngebersihin sampahnya sementara kita cuma bilang "ih jorok banget sih" , padahal kita sendiri yang buang sampah ditu. jijik dong sama diri sendiri.
 
daripada kaya gitu lebih baik dihindari mulai dari cara membuang sampah (kecuali ada yang mau tetap seperti itu, sebaiknya segera berhenti membaca, ini tidak baik untuk kepribadian anda). 
 
 
ini adalah sistem pengelolaan sampah yang diambil dari PPT kuliah pengelolaan sampah departemen biologi Universitas airlangga. karena kebetulan saya manusia kos-kosan jadi posting tentang sampahnya sampai di sekitar situ saja. tips yang bisa saya tulis disini buat teman-teman kos-kosan lain cuma sampai tahap ketiga.

1. Timbulan/ generation. 
dimana proses tukang sampah berlangsung . biasanya habis makan penyetan bareng di depan Tivi trus buang sampah. nha itu dia . kenapa saya sebut penyetan ? karena kebanyakan anak kost2an sering makan penyetan (pengalaman pribadi). kalau yang makannya beli (nggak masak). pasti dalam satu menu (misal penyetan) ada komponen yang nggak disukai, misal : "aku nggak suka terongnya" atau " aku nggak suka kubisnya" (tapi jarang yang bilang " aku nggak suka ayam atau lelenya) yang pada akhirnya terbuang. sampah nggak cuma dari makanan, dari wadah sabun, atau bekas air mineral atau bekas cosmetik. lanjut ketahap selanjutnya Pewadahan
 
2. Pewadahan.
 
pada tahap ini kontribusi untuk menjaga lingkungan dipertanyakan. pada tahap pewadahan yang harus dilakukan adalah pemilahan sampah. mana yang organik, mana yang non organik . mana yang bisa di recycle atau yang tidak. sebaiknya ada sampah khusus botol air mineral, botol kaca, atau barang plastik lainnya. barang-barang semacam ini bisa dijual dan lumayan hasilnya bisa dipakai untuk uang kebersihan, misal : buat beli sapu umum (buat yang gekost). untuk sampah yang non organik bisa langsung di buang di tahap nomor 3. kalau sampah organik seharusnya bisa dibuat kompos. berhunbung di kost nggak ada tanahnya. jadi yang bisa saya lakukan adalah membuang (ke nomor 3)

3. Pengumpulan. 
tahap ini biasanya dikumpulkan di bak sampah yang besar. misal di bak kuning yang biasanya ditarik pak PUPPW. biasanya bak ini ada di pinggir jalan seperti yang ada di dekat kostan saya. untuk pengumpulan sampah. biasanya ada yang jijik pegang sampah. untuk "ngakali" itu sebaiknya di tempat sampah dikasih plastik biar gampang pas mau ngumpulkan ke bak sampahnya. jangan hanya bisa bilang " ihh jijik" tapi usahakan "ihh jijik,tak buang aja deh"

nha...seneng kan kalau lihat kostan bersih.

semoga tidak hanya fatamorgana untuk menjadikan lingkungan kita seperti tang ada DI DALAM bohlam diatas, meskipun sekarang masih banyak yang seperti DI LUAR BOHLAM

semoga bermanfaat, kalau ada kesalahan mohon koreksinya..:)