Social Icons

Pages

Rabu, 17 April 2013

Ana Ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira


Aku dan mas Faris bertemu di Osaka saat kami sama-sama pergi ke akuarium. Saat itu hari sedang hujan, dan kebetulan kami sama-sama tidak membawa payung. Akhirnya kami berkenalan, tapi tidak kusangka pertemuan itu akan berjalan sejauh ini.
Saat kami menikah sebenarnya aku ingin kami memiliki rumah sendiri, tapi ternyata Alloh belum mengizinkan. Ibu mertuaku sangat menyayangi Mas Faris, beliau meminta kami tinggal bersamanya. Setelah beberapa kali mempertimbangkan, kamipun menuruti keinginan ibu. Terbesit sedikit rasa takut, tapi aku berusaha membuat diriku yakin bahwa ibu mertua adalah pembela bagi menantunya. Ingsya Allah.
Mas Faris adalah anak pertama dari dua bersaudara, dia memiliki adik laki-laki yang tidak lain adalah adik iparku sendiri, Farhan yang sekarang menempuh pendidikan di Sebuah Universitas swasta di Jakarta. Mas Faris adalah kebanggaan keluarga, terlebih saat ayahnya meninggal Mas Farislah yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Mas Faris tidak mengizinkan aku bekerja. Aku hanya bertugas mengurus rumah dan menjaga Ibu. Di sela-sela pekerjaannya, Mas Faris selalu meluangkan waktu dhuhur untuk sholat berjamaah denganku dan makan siang di rumah.
Tahun pertama pernikahan kami, semuanya terasa baik. Tapi semenjak hari itu aku menjadi pendiam dan pemurung. Siang itu Mas Faris pulang dari kantor, saat aku membukakan pintu untuknya kudapati dia bersama seorang wanita. Sedikit kaget tapi kufikir itu hanya teman kerjanya
 “Eh..Nak Farida, Ayo silahkan masuk nak”  Kata Ibu dari belakang. Ternyata Ibu sudah mengenal wanita itu. Beliau juga mengenalkan wanita itu padaku, dia adalah anak teman Ibu yang juga bekerja satu kantor dengan Mas Faris. Ibu mengundang Farida makan siang di rumah bersama kami.
Selepas sholat dhuhur, Mas Faris kembali ke kantor bersama Farida. Terbesit sedikit rasa khawatir melihat mereka berada di satu mobil. Aku segera merapikan meja makan agar fikiranku tidak diisi oleh prasangka yang buruk pada mereka.
“Nak Farida tadi cantik ya Ir” Kata Ibu. Beliau menceritakan tentang Farida, semua tentang Farida. Sampai-sampai aku berfikir kalau Ibu bermaksud membandingkanku dengan Farida. Dia bekerja sementara aku tidak, dia cantik dengan make upnya yang sempurna, sementara aku memakai lipstikpun tidak.
“Ir, kata tetangga sebelah setelah pergi ke Mbah Minten, menantunya langsung isi lho” Kata Ibu.
“Astaghfirulloh Ibu, mbah minten itu paranormal. Minta tolong padanya sama dengan syirik buk dan Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik” Jawabku. Aku teringat sebuah ayat yang kubaca kemarin.
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali. (QS. An Nisa’: 116)
“Halah, Sirik apa. Ibu juga sholat dan puasa. Lagipula kamu sudah berkali-kali ke dokter, mana hasilnya” Kalimat ibu membuatku merinding.
Tiga tahun pernikahanku dengan Mas Faris, kami belum dikaruniai anak. Terkadang aku kesepian, meskipun sudah ada Ibu di rumah. Mungkin itulah sebabnya ibu sampai berfikir sejauh ini.
Sudah beberapa kali aku dan Mas Faris pergi ke dokter untuk berkonsultasi. Aku juga sudah minum beberapa obat hormonal saran dokter, jamu, sampai herbal. Aku juga berusaha menyukai kecambah yang sebenarnya membuatku sangat mual. Kami sudah berikhtiar semampu kami, tapi sampai detik ini kami masih harus bersabar.
“Kami sudah berusaha bu, mungkin Alloh belum mengizinkan” Aku tertunduk.
“Kalau begitu biarkan Faris menikah lagi” Kata-kata ibu membuat hatiku seakan runtuh.
Aku tak kuasa menahan air mataku, aku tidak bisa membayangkan tinggal satu atap dengan istri baru Mas Faris. Betapa tragisnya aku, saat mereka sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Terlebih jika istri Mas Faris nanti lebih dulu memberikan cucu pada Ibu, aku akan menjadi orang asing di keluarga ini.
                                                                        888
Sejak kejadian itu hubunganku dengan ibu makin renggang. Setiap apa yang kulakukan di rumah, selalu dikaitkan dengan anak. Ibu juga semakin sering mengundang Farida makan siang di rumah.  Perasaan senang ketika Mas Faris pulang, kini berganti menjadi perasaan khawatir.
Aku memandangi wajahku di cermin, pucat. Aku mulai memoleskan lipstik, eye shadow, dan blush on di pipiku agar ketika Mas Faris pulang nanti, aku tidak terlihat lesu dan dia akan senang melihatku.  
“Kamu mau kemana?” Tanya Ibu ketika aku keluar kamar.
“Ehm, tidak kemana-mana bu” Jawabku
“Menor sekali, seharusnya kamu bisa seperti Farida” Kata Ibu.
Deg!
Tanpa sadar air mataku menetes, ibu menunjukkan sikap condongnya pada Farida. Mungkin Ibu menginginkan sosok menantu seperti Farida. Fikiranku semakin tidak karuan. Aku selalu mengkhawatirkan Mas Faris yang setiap hari bertemu Farida di kantor. Aku berusaha menyingkirkan perasangka negatif ini, tapi semakin aku berusaha, bayangan Farida semakin jelas di fikiranku.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan membaca buku-buku tafsir, membaca Al-Qur’an, membaca ensiklopedi islam, hingga buku tentang kiat-kiat cepat memiliki anak sambil menunggu suamiku pulang kerja.
“Dek, Kamu pakai make up?” Tanya Mas Faris sambil tertawa kecil saat aku menyodorkan handuk hangat padanya. Aku lupa menghapus make upku tadi siang.
“Ah..iya” Aku segera menghapus make upku dengan lengan  daster yang kupakai.
“Jangan di hapus dulu” Mas Faris memegang tanganku. “Kamu cantik sayang” kalimat Mas Faris membuatku melambung. Mas Faris memegang kepalaku dan  menghadapkannya ke cermin. Dia mencium ubun-ubunku dengan lembut seperti saat malam pertama pernikahan kami. Aku tersipu.
“Tapi aku lebih suka kalau tanpa make up, kamu bilang jerawatan kalau pakai bedak” Mas Faris memegang kedua alisku. Memencet jerawat di dahiku yang entah sejak kapan muncul.
 “Anna ukhibbuki Fillah, Ya Khumaira. Bukan hanya karena kamu cantik” Kalimat Mas Faris benar-benar ampuh membuat pipiku semerah udang rebus. Istri mana yang tidak senang jika dipanggil dengan panggilan sayang baginda Rosululloh kepada istrinya ‘Aisyah.
Malam itu Mas Faris mengajakku jalan-jalan di sekitar komplek. Kami biasa jalan-jalan malam untuk berbicara dari hati ke hati.
“Mas, Apa Mas bahagia bersama Irma?” Tanyaku.
“Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Apa ada yang mengusikmu” Kata Mas Faris.
Kami duduk di taman. Menikmati indahnya bintang dan lampu taman. Aku bersandar di bahu Mas Faris, tanpa kusadari air mataku menetes di jaket tebalnya.
            “Aku sangat menyayangimu mas, aku ingin menjadi wanita yang sempurna untukmu. Aku takut kehilanganmu mas. Tapi aku juga tidak bisa egois padamu, pada Ibu. Ibu sangat ingin memiliki Faris dan Irma kecil, tapi aku belum bisa memenuhinya. Aku juga ingin dipanggil Umi, dan kamu juga ingin di panggil Abi kan mas? Lagi pula salah satu tujuan pernikahan kan untuk memperbanyak keturunan, memperbanyak muslimin dan muslimah, dan sampai sekarang kita belum mencapai tujuan itu” Kataku sambil menangis. Mas Faris memelukku.
“Dek, badanmu panas sekali” Dia memegang dahiku. Badanku lemas lalu semuanya gelap.
                                                                        888
Saat bangun hari sudah pagi, aku berada di ruangan putih dengan selang infus menancap di tanganku. Kulihat Mas Faris tidur terduduk di kursi. Wajahnya terlihat lelah. Aku beranjak dari tidur, menyelimutinya dengan selimut. Aku duduk disampingnya.
“Dek kamu kok di sini” Dia terbangun, aku hanya tersenyum.
“Aku sakit apa mas?” Tanyaku.
“Nggak sakit apa-apa dek, akulah yang sakit. Kemarin Farhan menyuruhku pergi ke dokter. Kata dokter cairan semenku abnormal. Aku menyesal baru tahu sekarang. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak tahu apa yang kamu rasakan di rumah. Maafkan aku membuatmu tertekan, dan sakit seperti ini dek. Maafkan aku dek” kata Mas Faris. Perasaanku campur aduk, hingga tidak bisa berkata apa-apa. Air mataku lebih bisa mengungkapkan perasaanku.
“Maafin Ibu juga ya Nak” Ibu muncul dari belakangku. Beliau memelukku.
“Ibu terlalu  memaksakan kehendak ibu tanpa memikirkan perasaanmu. Ibu juga minta maaf karena mengajakmu ke Mbah Minten, seharusnya Ibu bersyukur punya menantu yang bisa mengingatkan Ibu. Maafkan perkataan Ibu saat itu nak” Air mataku semakin deras. Aku senang tapi juga marah. Akhirnya kuputuskan untuk memaafkan mereka. Meskipun pasti akan sangat sulit melupakan kekeliruan ini.
Sepulang dari rumah sakit aku meminta Mas Faris mengantarku pulang ke rumah ibuku. Bukan karena masih marah padanya dan Ibu, hanya ingin menenangkan perasaanku. Sementara itu, Mas Faris akan menjalani pengobatan herbal di luar kota. Setiap akhir pekan dia selalu menjengukku dan menginap di rumah.
Sebulan kemudian, Mas Faris menjemputku. Dia juga sudah harus bekerja lagi. Saat akan masuk ke mobil aku pusing dan mual. Mas Faris menyuruhku istirahat di rumah beberapa hari lagi, tapi aku menolak aku sudah merindukan Ibu mertuaku. Di perjalanan Mas Faris mengajakku ke Dokter kandungan. Awalnya aku sempat pesimis, tapi setelah di periksa Dokter ternyata aku hamil. Aku seperti di dalam mimpi, aku tidak sabar memberi tahu ke dua ibuku tentang ini.
Sampai di rumah, aku merasakan kebahagiaan kedua. Ibu sudah menyambutku di depan pintu, beliau sudah memakai gamis merah maroon dengan jilbab lebarnya padahal sebelumnya dia hanya memakai ciput yang lebih mirip topi. Beliau mencium dan memeluku erat. Saat aku memberitahu ibu tentang kehamilanku, beliau menangis haru. Aku juga tak kuasa menahan bendungan air di mataku.
Hari demi hari terajut menjadi minggu, minggu-minggu terangkai menjadi bulan. Bulan demi bulan kulalui dengan penuh syukur dan sabar menanti kelahiran anakku ke dunia ini. Ibu selalu membimbingku. Kalau dulu aku yang menjaga dan merawat Ibu, Sekarang justru ibu yang merawatku. Mas Faris juga lebih banyak libur apalagi saat bulan terakhir kehamilanku. Dia tidak mau melewatkan proses melahirkan anak pertama kami.
Beberapa hari kemudian aku melahirkan putra pertama kami. Dia mewarisi wajah tampan Mas Faris, dan beberapa fenotip yang tampak dari genotipku. Kami berharap dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang Hukma Shabiyya Rabbi Radhiyya (Anak yang meiliki hikmah dan diridhoi Alloh SWT sejak kecil), Amiin Yarobbal Alamin.
                                                      TAMAT

Lita Indri Dian L.
Ayooo kritiknya yaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar